WHAT'S NEW?
Loading...

PR Kita Belum Usai

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alqur’an sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (bayyinat) dan pembeda (furqân) (antara haq dan batil). (QS al-Baqarah [2]: 185).

Saya yakin bukan kali ini Anda menyambut Ramadhan untuk pertama kali, kalaupun terdapat muallaf diantara pembaca sekalian dan ini merupakan bulan puasa pertama kali pastinya sudah mengetahui apa saja yang membuatnya berbeda dengan bulan selainnya.
Jika sebelumnya masih ada yang enggan sholat subuh berjamaah ataupun sulit bangun dini hari, mau tak mau suka tak suka kita diwajibkan sholat subuh dan mengutamakan bersahur sebelum menahan lapar dan nafsu hingga maghrib menyapa.
Jika sebelumnya menjelang petang kita merayapi sore dengan melepas penat, kini program dan berbagai kajian menunggu berbuka menyapa. Banyak surau, musholla, dan masjid membuka pintu selebar-lebarnya untuk mengajak berbuka bersama. Enggan tak enggan, kian banyak yang berjamaah maghrib dan isya.
Terlebih usai isya, jika sebelumnya kita terkurung di sangkar beton alias rumah masing-masing, di bulan penuh kemuliaan ini sholat tarawih dan tadarus Qur’an kian menambah pelangi iman di malam hari. Belum lagi geliat kaum mukmin yang meramaikan rumah Alloh dengan I’tikaf dan tahajud untuk meraih Lailatul Qadr di mana bagi mukmin beruntung yang memperolehnya amalan selama Ramadhan akan dilipatgandakan setara 1000 bulan.
Subhanalloh, tak terasa kekasih yang dinanti 11 bulan lamanya akan berpisah dan taka da satupun insan yang mampu menjamin dirinya akan menjumpai kekasih ini di tahun berikutnya. Itulah mengapa kaum mukmin yang bening hatinya senantiasa bersedih dan menetes airmatanya kala berpisah denga Ramadhan. Mereka yang mereguk manisnya iman sadar bahwa kelak usai Ramadhan berlalu tiada lagi amalan khusus dan pelipatgandaan pahala selama 11 bulan lamanya. Dan mereka sadar akan banyak diantara kaum mukmin yang kembali enggan melangkahkan kaki di Rumah Alloh SWT terutama di saat subuh dan isya menyapa.
Kemenangan sejati diraih bukan agar kita merasa tak perlu lagi berjuang. Jika kita lega tak aka nada lagi berpayah untuk ibadah, maka mindset dan hati kita masih berasumsi ibadah itu beban. Yang dengannya usai Ramadhan ibadah akan menurun seiring lamanya kita pelihara mindset demikian. Semoga kita menjadikan bulan berikutnya sama. Tiap bulan, tiap hari, tiap detik adalah berkah yang Alloh beri agar kita mampu beribadah pada-Nya sebagaimana tujuan penciptaan kita di dunia ini. Wallahu’alam bi ash shawwab.
Salam Mindset Pemenang!!

untuk mengundang Farouk Amsyari di event, seminar, dan training dapat menghubungi
085733346313
untuk mengobrol dengan Farouk Amsyari bisa di 
twitter @amsyari_f dan facebook Farouk Amsyari

Farouk Amsyari berbagi inspirasi lewat radio

1 komentar: Leave Your Comments

  1. terima kasih mas Farouk Amsyari ilmu dan motivasinya
    semoga makin inspiratif..

    BalasHapus